manfaat kakao bagi ternak

<a href=’http://muhI Made Londra, S.Pt. dan Ir. Suprio Guntoro –tim peneliti BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Bali?mengemukakan limbah dari kulit buah kakao dapat dibuat pakan ternak dengan kandungan nilai gizi tinggi melalui proses fermentasi. Berdasarkan hasil penelitian BPTP Bali, anak kambing PE yang hanya diberikan hijauan, pertumbuhannya rata-rata 65 gram/ekor/hari. Namun bila diberi konsentrat dari limbah kakao terfermentasi dengan dosis yang sama memberikan pertumbuhan 115-120 gram/ekor/hari.

Salah satu mikroba yang dijadikan fermentor yang cocok untuk kulit buah kakao dan limbah hasil perkebunan lainnya adalah Aspergillus niger. Mikroba tersebut merupakan salah satu hasil pengujian dari BPTP Bali yang sedang diujicobakan di beberapa daerah di Indonesia.

Disarikan dari Tabloid Sinar Tani edisi 26 Januari-1 Pebruari 2005 No. 3083 Tahun XXXV hal. 26.

Advertisements

GAMBAR MESIN PRODUKSI KAKAO

Produksi biji kakao Indonesia secara signifikan terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan umumnya masih rendah dan beragam, khususnya yang dihasilkan oleh petani perkebunan rakyat. Oleh karena itu teknologi pengolahan kakao pada tingkat petani perlu dikembangkan agar mampu menghasilkan biji kakao bermutu tinggi secara berkelanjutan. Salah satu upayanya adalah melalui penerapan alat dan mesin hasil rekayasa terkini untuk dikembangkan pada usaha agribisnis perkebunan rakyat.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao telah menghasilkan prototype alat dan mesin tepat guna untuk pengolahan Kopi dan Kakao. Hasil rekayasa tersebut harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan alat sejenis produksi luar negeri dan juga lebih efisien, mampu mencapai mutu produk sesuai dengan tuntutan pasar. Alsin pengolahan kakao tersebut dapat dilihat berikut ini.

Mesin Pemecah Buah Kakao

pemecah-buah-kakao.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor listrik 3 HP, 3 Phase, 380 V

– Bahan Bakar : Solar

b. Kapasitas Kerja : 1000 buah kakao per jam

2. Keunggulan

– Kecepatan kerja terjamin

– Kebersihan biji terjamin

– Konsumsi energi rendah

– Mudah diadopsi oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Pemisah Lendir Biji Kakao Segar (Depulper)

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–>pemisah-lendir-biji.jpg<!–[endif]–>

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor listrik 3 HP, 3 Phase, 380 V

– Bahan Bakar : Solar

b. Dimensi Peralatan

– Panjang : 165 cm

– Lebar : 60 cm

– Tinggi : 120 cm

c. Kapasitas Kerja : 2 Ton biji kakao segar per jam

2. Keunggulan

– Hasil pengupasan seragam dan bersih

– Konsumsi energi rendah

– Perawatan mudah dan murah

– Dapat berfungsi sebagai mesin pencuci

– Mudah dipindah-pindahkan

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Pengering dan Fermentasi Biji Kakao Tenaga Surya atau Limbah Kakao

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–>mesin-pengering-dan-fermentasi-biji-kakao-tenaga-surya.jpg<!–[endif]–>

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Kebutuhan Listrik : Kipas Aksial : Motor Listrik ¼ HP, 220V, 1 Phase

Kipas Sentrifugal : Motor Listrik 1 HP, 220V, 1 Phase

– Bahan Bakar : Tenaga Surya (Solar Cell) atau Kayu bakar 2-3 m3/ton biji kakao

kering

b. Kapasitas Kerja : 5 ton biji kakao basah

2. Keunggulan

– Hemat energi (tenaga surya dan kayu bakar)

– Konsumsi energi rendah (23 KWH per ton biji kakao kering)

– Hemat tenaga kerja

– Bebas polusi

– Kompak dan perawatan mudah

– Kapasitas pengoperasian alat dapat diatur sesuai jumlah panen

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Sortasi Biji Kakao Kering

sortasi-biji.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor Listrik 3 HP, 3 Phase, 220/380 V

– Daya/Putaran Mesin : 16 Rpm

– Bahan Bakar : Solar

b. Dimensi Peralatan

– Panjang : 3,5 m

– Lebar : 0,8 m

– Tinggi : 2 m

c. Kapasitas Kerja : 1246 kg/jam biji kakao

2. Mekanisme Kerja/Cara Pengoperasian/Fleksibelitas Pengoperasian

– Mudah diadopsi oleh Perkebunan Besar maupun Perkebunan Rakyat.

– Dapat digunakan untuk komoditas lain seperti Jagung, Padi, dll.

– Kapasitas pengoerasian alat dapat diatur sesuai jumlah panen.

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Penghancur Biji dan Pemisah Kulit Kakao

mesin-penghancur-biji-dan-pemisah-kulit-kakao.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor Listrik 1 PK, 3 Phase, 380 V; Motor Bakar

– Daya/Putaran Mesin : 1440 Rpm

– Bahan Bakar : Minyak tanah atau gas

b. Kapasitas Kerja : 120 Kg/jam biji kakao

2. Keunggulan

– Konsumsi energi rendah

– Harga bersaing

– Mudah diadopsi oleh Perkebunan Besar atau Perkebunan Rakyat.

– Mudah dipindahkkan ke tempat lain.

– Perawatan mudah dengan biaya rendah.

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Penyangrai Biji Kakao

mesin-penyangrai-biji-kakao.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor Listrik 2 PK, 3 Phase, 380 V; Motor Bakar

– Daya/Putaran Mesin : 940 Rpm

– Bahan Bakar : Minyak tanah atau gas

b. Dimensi Peralatan

– Panjang : 140 cm

– Lebar : 90 cm

– Tinggi : 160 cm

c. Kapasitas Kerja : 25 Kg/jam biji kakao

2. Keunggulan

– Dapat digunakan untuk komoditas lainnya (kopi).

– Mutu biji dan keseragaman biji tersangrai konsisten

– Mudah diadopsi oleh Perkebunan Besar atau Perkebunan Rakyat.

– Mudah dipindahkkan ke tempat lain.

– Sumber panas burner berbahan bakar minyak tanah atau gas.

3. Perekayasa /Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Mesin Penepung Kakao

mesin-penepung-kakao.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Tenaga Penggerak

– Type/Model : Motor Listrik 1 HP

– Daya/Putaran Mesin : 1440 Rpm

– Bahan Bakar : Solar

– Transmisi : V belt, 3 alur, jenis B

b. Dimensi Peralatan

– Panjang : 67 cm

– Lebar : 60 cm

– Tinggi : 70 cm

c. Kapasitas Kerja : 120 kg/jam

2. Keunggulan

– Dapat digunakan untuk komoditas lainnya (kopi).

– Mutu biji dan keseragaman biji tersangrai konsisten

– Mudah diadopsi oleh Perkebunan Besar atau Perkebunan Rakyat.

– Mudah dipindahkkan ke tempat lain.

– Sumber panas burner berbahan bakar minyak tanah atau gas.

3. Perekayasa /Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

 

Alat Kempa Lemak Kakao (Kakao Butter)

alat-kempa-lemak-kakao-kakao-butter.jpg

1. Spesifikasi Teknis

Tenaga Penggerak : Kempa Hidraulis

2. Keunggulan

– Dapat digunakan untuk memisahkan lemak dan pasta kakao

– Mudah diadopsi oleh Perkebunan Rakyat.

– Mudah dikembangkan oleh bengkel alsintan setempat.

– Mudah dipindahkkan ke tempat lain.

3. Perekayasa/Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

Kakao Tester

kakao-tester.jpg

1. Spesifikasi Teknis

a. Sumber arus baterai 6 x 1,5 V type AA

b. Skala meter 0 – 20%

c. Dimensi 14,2 x 13,5 x 8,5 cm

d. Berat 830 g

2. Keunggulan

– Akurasi tinggi

– Harga Murah

– Praktis

3. Kegunaan

– Untuk mengukur kadar air biji kopi, biji kakao, cengkeh, lada padi dan biji-bijian lain

4. Perekayasa /Produsen

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jl. Panglima Besar Sudirman No. 90, Jember 68118

 

SEMANGAT……………………

dalam perjalanan hidup akan ada selalu hambatan dan rintangan dimana dalam hidup kita harus semangat………..serta sabar dalam menjalaninya,rintangan dan hambatan akan selalu ada karna dua hal tersebut merupakan bagian dari hidup….yang selalu berdampingan.sebagai manusia kita janganlah takut untuk menghadapi rintangan dan hambatan.SETUJU,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,dan allah tidak akan memberikan rintangan dan  hambatan di luar kemampuan manusia…

teknis smbung pucuk tanaman kakao

Perbanyakan kakao lindak selama ini dilakukan secara generatif menggunakan benih. Perbanyakan secara generatif ini lebih mudah dan sederhana, namun populasi tanaman yang dihasilkan bervariasi, baik dalam hal ukuran buah, warna buah dan kemampuan berproduksi karena tanaman kakao pada umumnya bersifat menyerbuk silang. Perbanyakan kakao lindak selama ini dilakukan secara generatif menggunakan benih. Perbanyakan secara generatif ini lebih mudah dan sederhana, namun populasi tanaman yang dihasilkan bervariasi, baik dalam hal ukuran buah, warna buah dan kemampuan berproduksi karena tanaman kakao pada umumnya bersifat menyerbuk silang. Untuk mendapatkan keseragaman sifat dalam populasi tanaman, dapat ditempuh dengan dengan perbanyakan secara vegetatif. Disamping itu, dengan metode perbanyakan ini dapat dilakukan perbaikan tanaman, misalnya peningkatan mutu biji kakao dengan memanfaatkan klon-klon unggul yang tersedia untuk memperoleh ukuran biji besar dan kadar lemak tinggi. Perbanyakan vegetatif pada kakao meliputi okulasi, sambung pucuk, stek dan cangkokan. Di dalam praktek, okulasi merupakan cara perbanyakan vegetatif yang lazim diterapkan. Meskipun hemat dalam pemakaian entres (satu tanaman hanya memerlukan satu mata entres saja), akan tetapi pertumbuhan tunas hasil okulasi pada awalnya lambat dan tidak seragam karena mata entres sering mengalami dorminasi. Sehingga untuk menghasilkan bibit klonal dari okulasi diperlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 9 bulan. Selain itu batang bawah maupun tunas baru hasil okulasi memerlukan perawatan dan perlakuan intensif. Sambung pucuk merupakan metode alternatif yang perlu dipertimbangkan penerapannya karena lebih efisien dalam pelaksanaan maupun waktu.

hama PBK turunkan produksi {papua}

Kakao merupakan salah satu komoditi andalan kabupaten Yapen Waropen, akan tetapi beberapa tahun terakhir sejumlah produksi tanaman kakao terus menurun. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya tanaman kakao yang teserang hama BPK hingga jumlah kakao yang dihasilkan terus menurun dengan kwalitas yang juga makin menurun. Salah seorang petani kakao di distrik angkaisera Gasper Samai mengakui serangan hama PBK yang terus meluas menyebabkan jumlah produksi biji kakao yang dihasilkan terus berkurang.

Diakuinya selama ini dari hasil kakao dapat membiayai kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya akan tetapi dalam dua tahun terakhir ini hasil penjualan kakao sudah tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anakanya karena jumlah kakao yang dihasilkan terus menurun dan kwalitasnya juga mengalami penurunan hingga harga jual di pasaran juga semakin rendah.

“Dari hasil kakao yang saya sudah tanam saya dapat memenuhi kebutuhan sehar-hari dan mem­biayai sekolah anak-anak dan bahkan dapat membangun rumah tetapi dua tahun terakhir ini hasil penjualan kakao hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga saya harus mencari tambahan untuk membiayai sekolah anak-anak,” kata Gasper

Sementara ditempat terpisah salah seorang pedagang pengumpul kakao. Billi Chandra menjelaskan serangan hama yang terus meluas disebabkan adanya kelalaian dari petani sendiri yang kurang baik merawat tanaman kakaonya sehingga saat terjadinya serangan, hama dan penyakit tanaman kakao petani mengetahui lebih dini akibatnya serangan hama dan penyakit semakin meluas yang mengakibatkan jumlah produksi kakao terus menurun.

Selain kelalaian dari petani itu sendiri intansi terkait dalam hal ini dinas perkebunan juga kurang memberikan perhatian terhadap petani kakao saat hama dan pe­nyakit tanaman muncul. ‘Seharusnya PPL perkebunan senantiasa berada ditengah petani untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan cara menanggulangi serangan hama dan penyakit pada tanaman kakao”tandas Billy.

Untuk itu Billi mengharapkan agar semua pihak yang terkait baik itu aparat dinas perkebunan, petani serta pihak terkait lainnya untuk bekerja sama mengatasi se­rangan hama PBK agar produksi kakao dapat kembali meningkat sebab turunnya jumlah produksi kakao juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani kakao yang juga mengalami penurunan.

“Petani kakao tidak boleh menyerah walau tanaman terserang hama penyakit tetapi berusaha dengan sungguh- sungguh untuk menberantas hama agar tanaman kakao dapat menghasilkan buah yang baik”ujar Billi.

gambar kakao

kk.jpeg7.jpeg6.jpeg5.jpeg

gambar kakao

images.jpegimages.jpegimages.jpeg

5.jpeg7.jpeg 6.jpeg

penyakit utama pada tanaman kakao

Penyakit busuk buah merupakan salah

satu penyakit terpenting pada tanaman kakao.

Penyakit ini dapat disebabkan oleh Phytoph-

thora palmivora, P. megakarya, P. capsici atau

P. citrophthora. Di Indonesia busuk buah

disebabkan oleh P. palmivora. Keberhasilan

pengendalian penyakit busuk buah salah

satunya

tergantung

kepada

keberhasilan

penekanan kuantitas dan kualitas inokulum

baik yang berada di atas maupun di bawah

permukaan tanah.

tata dan jarak penanaman tanaman naungan pada kakao

Tata tanam dalam penggunaan kelapa sebagai penaung kakao dapat 
disusun sebagaimana gambar berikut 
X o o X o o X o o X o o X 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
X o o X o o X o o X o o X 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
o o o o o o o o 
X o o X o o X o o X o o X 
Keterangan 
- Jarak tanam kakao 4x2 m (1000 ph/ha) 
- Jarak tanam kelapa 10x10 m (100 ph/ha) 
- Jarak kakao-kelapa 3 m 
Tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnya 
Tanaman kayu-kayuan atau tanaman lain yang mempunyai nilai ekonomis 
juga dapat dimanfaatkan sebagai penaung, tanaman sela, ataupun 
tanaman tepi 
dalam budidaya kakao. 
Tanaman Jati (Tectona grandis) dan Sengon (Albisia falcata) dapat 
dimanfaatkan sebagai tanaman tepi kebun ataupun tanaman sela pada 
pertanaman kakao. Pada pertanaman kakao tersebut tetap dimanfaatkan 
penaung Lamtoro atau Gamal, sedangkan Jati dan Sengon ditanam dalam 
barisan dua baris (double row) 3 x 2 m dengan jarak antar barisan 
jati atau 
sengon 24 - 30 m. Dengan tatatanam demikian terbentuk lorong 
diantara 
tanaman jati atau sengon, yang dapat ditanami tanama kakao 3x3 m 
Dalam hal ini jati, sengon atau tanaman kayu-kayuan yang lain dapat 
difungsikan sebagai tanaman penaung dan atau tanaman pematah angin. 

x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + + 
Keterangan 
- Jarak tanam kakao (3 x 3) m 
- Jarak tanam Jati (3 x 2) m x 24-30 m 
- Jarak tanam Sengon (3 x 2) m x 24-30 m

sekilas tentang budidaya tanaman kakao

Pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap memperhatikan 
kesesuaian lahannya. Sebagai tananam yang dalam budidayanya 
memerlukan 
naungan, sebelum penanaman kakao perlu persiapan lahan dan naungan 
yang 
prima. Tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao 
akan sulit diharapkan keberhasilannya. 
Untuk tanaman penaung kakao, dapat digunakan tanaman yang 
mempunyai nilai ekonomis seperti pisang sebagai penaung sementara, 
dan 
kelapa sebagai penaung tetap, serta jati. sengon, atau tanaman 
lainnya sebagai 
tanaman tepi blok kebun. Penggunaan penaung tersebut perlu disusun 
dalam 
tatatanam yang tepat, sehingga dapat memberikan produksi yang 
optimal dan 
memberi manfaat konservasi lahan. 
Persiapan lahan, penyiapan bibit, dan saat tanam harus dilakukan 
dengan 
perencanaan yang tepat, sehingga pada saat tanam, bibit kakao siap 
tanam, dan 
tanaman penaung di lapangan siap berfungsi sebagai penaung. 
Selanjutnya 
dengan teknik budidaya yang benar akan dapat diperoleh tanaman kakao 
dengan pertumbuhan baik dan produksi yang tinggi.

« Older entries